Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop
semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin
dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima
buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian
amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10
bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”,
lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus
amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban
jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan
harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya
mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh
bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi
bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop
banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh
bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli
nasi.
Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh
bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan
sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si
Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan
terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi
meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air
mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang
bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak
laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu
sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka,
meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di
mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.
Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari
mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku.
Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan
memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa
mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih
mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan
mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung
kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat
daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta
kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk
memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis,
ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang
saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu
membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang
saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.
Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi
saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan
memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan
melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan
dagangannya yang tak laku-laku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar